Langsung ke konten utama

Featured post

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...

17 Deteksi Dini Gangguan Belajar yang Dapat Dilakukan Orang Tua di Rumah

 

Deteksi Dini Gangguan Belajar oleh Orang Tua

Sobat PSAK, ada deteksi dini kesulitan belajar yang dapat dilakukan orang tua di rumah. Deteksi dini ini dilakukan khususnya saat anak memasuki usia Sekolah Dasar (SD) pada usia kelas awal (1-3 SD),


gangguan belajar

Ilustrasi anak sedang  belajar (Foto: Olia Danilevich, Pexels)



Berikut ini hal yang perlu orang tua amati dari perilaku anak, khususnya kemampuan belajar pada tingkat kelas awal (1-3 SD):

1.       Amati kemampuan membacanya

a.       Apakah sudah mampu mengenal huruf dan angka?

b.      Apakah ketika membaca kata-kata ada yang huruf salah atau sudah lancar?

c.       Sudahkah mampu memaknai kata-kata dan kalimat sederhana dari yang dia baca?

d.  Bagaimana kemampuan membacanya, apakah lancar, mengeja, atau tidak mampu membaca sama sekali.

2.       Amati kemampuan menulisnya.

a.       Apakah mampu memegang pensil atau alat tulis dengan baik dan benar?

b.      Apakah ada huruf yang terlewat pada satu atau beberapa kata?

c.       Apakah tulisan tangannya tidak mampu dibaca oleh orang lain.

3.       Amati kemampuan berhitungnya.

a.       Apakah mampu membedakan mana lebih kecil atau lebih besar?

b.      Apakah mampu menghitung objek atau benda?

c.     Apakah mampu mengurutkan bilangan dari yang terkecil hingga terbesar pada kisaran 1-10?

d.    Apakah mampu mnghitung mundur dari bilangan terbsar ke bilangan paling kecil pada kisaran 1-10?

4.       Amati kemampuan berbahasa dan komunikasi anak

a.       Apakah anak mampu memahami pembicaraan dari orang lain?

b.      Apakah dalam tanya jawab sudah menyambung antara pertanyaan dengan jawaban yang diberikan?

c.    Apakah anak mampu mengingat informasi penting di keseharian seperti tugas sekolah dan mengkomunikasikannya kepada orang tua?

5.       Amati daya tahun pemusatan perhatian anak

a.       Apakah anak sudah mampu duduk diam dalam belajar selama 1 jam?

b.  Anak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik di kelas dan tidak mengganggu temannya?

c.       Apakah sudah mampu mempertahankan perhatian dalam membaca?

 

Jika ananda mengalami masalah di atas, pada tingkatan kelas 1 semester genap, langkah pertama bagi Sobat PSAK adalah mendatangi ahli ya Ayah dan Bunda.  Saat anak mengalami masalah dalam menulis, membaca, dan berhitung yang disertai dengan rendahnya pencapaian akademis, maka datanglah ke psikolog klinis anak atau psikolog pendidikan.

Kunjungan ke psikolog klinis anak atau psikolog pendidikan akan menegakkan diagnosa apakah anak mengalami masalah kesulitan belajar.  Selanjutnya adalah ditindak lanjuti dengan melakukan terapi sesuai masalah yang dialami. 

Ada kalanya masalah kesulitan belajar mengalami tumpang tindah dengan masalah psikologis lainnya. Oleh karenanya perlu diagnosa yang tepat dan komprehensif. Para ahli akan merujuk ke berbagai intervensi untuk menangani masalah ini.

Salah satu terapi untuk masalah kesulitan belajar adalah terapi belajar dan terapi metakognitif.  Melalui terapi tersebut anak diperkenalkan dengan berbagai strategi belajar yang dapat mengatasi dalam penerimaan, pemerosesan, dan pengolahan informasi saat belajar.    

Di sisi lain, pengakuan sejak awal bahwa anak-anak mungkin berisiko terkena kesulitan belajar dapat mencegah keraguan diri dari orang tua dan anak selama bertahun-tahun. Hal ini akan mempermudah anak dalam proses belajar dan menerima dirinya.

Seiring bertambahnya usia anak, mereka akan belajar tentang sifat khusus kesulitan belajar yang dialami.  Mereka akan  menerima bahwa kesulitan belajar bukanlah siapa diri mereka tetapi apa yang mereka miliki. 

Mereka akan menggunakan berbagai strategi untuk mengatur jenis pendekatan belajar yang sesuai, penyediaan kebutuhan belajar, dan dukungan yang dibutuhkan untuk sukses.  Hal ini akan membantu anak mengatasi hambatan untuk belajar dan menjadi anggota masyarakat yang mandiri, percaya diri dan berkontribusi di masyarakat.

Referensi

Arnaldi, M. (2016). Kupas tuntas masalah anak slow learner (keterlambatan perkembangan fungsi bahasa dan bicara). Jakarta: Klinik Psikonurologi Hang Lekiu & Asosiasi Cinta Guru Indonesia.

Cortiella, C. & Horowitz, S.H. (2014). The State of Learning Disabilities: Facts, Trends and Emerging Issues. 3 eds. New York: National Center for Learning Disabilities

Helen Hargreaves, H., Rowbotham, M., & Phillips, M. (2009). A Handbook onLearning Disabilities. Walk a Mile in My Shoes Workhsop. Diakses 15 April 2021 dari https://www.childdevelop.ca/sites/default/files/files/WAM%20LD%20handbook.pdf.

Syarifudin, A. (3 Juni 2021). Mengenal angka dan kemampuan berhitung anak. www.ilmuparenting.net. Diakses 6 Februari 2022 dari https://ilmuparenting.net/kemampuan-berhitung-anak/

Syarifudin, A. (4 Juni 2021). Karakteristik gangguan belajar pada anak. www.ilmuparenting.net. Diakses 6 Februari 2022 dari https://ilmuparenting.net/gangguan-belajar-pada-anak/

VandenBos, G. R., & American Psychological Association. (2007). APA dictionary of psychology. 2nd  eds. Washington, DC: American Psychological Association

 

Komentar